Sopir Ekspedisi: Polantas Minta Uang ke Pengendara Sudah Jadi Makanan Sehari-hari

SATELITNEWS.com, Sebuah video berdurasi 1 menit 45 detik yang berisi aksi seorang polisi lalu lintas (polantas) meminta uang kepada pengendara yang diduga pelanggar lalu lintas, beredar di situs jejaring sosial Facebook dan situs berbagi video Youtube.

Video yang pertama kali dipublikasi pada Senin 19 September 2016 itu pun langsung menjadi viral di para pengguna sosial media. Video itu juga membuat berang Kepala Korlantas Polri, Irjen Agung Budi Maryoto, yang meminta agar oknum polantas itu dicari dan dijatuhi hukuman.

Informasi yang dihimpun, polantas yang berada di video tersebut merupakan personel Polda Sumut yang bertugas di Polres Labuhanbatu. Empat orang sudah diperiksa Propam Polda Sumut terkait video tersebut. Mereka adalah Aipda AS, Aipda DM, Bripka S dan Bripda TM.

Diluar aksi yang kini ditudingkan kepada empat polisi itu, nyatanya aksi pemerasan yang patut diduga dilakukan oknum polantas terhadap para pengguna jalan, bukanlah cerita baru di jalur lintas Labuhanbatu.

Aksi pemerasan serupa juga disebut-sebut terjadi di hampir seluruh wilayah di jalur lintas timur Sumatera Utara, yang memang dikenal sebagai jalur utama transportasi komoditas hasil bumi di Sumut. Mulai dari Kabupaten Asahan, hingga ke Kabupaten Labuhanbatu.

“Itu (video yang menjadi viral) kan yang baru terekam. Coba saja jalan sendiri dari Asahan sampai ke Labuhanbatu sana, hampir setiap kecamatan yang dilewati ada razia seperti itu. Biasanya meraka di rambung-rambung (kawasan rindang di tengah perkebunan). Kadang-kadang pakai plang razia, tapi lebih sering enggak,” ujar Sb (48), sopir salah satu perusahaan ekspedisi yang berkantor di Jalan SM Raja, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, saat dihubungi Rabu (21/9/2016).

Sb yang saat dihubungi mengaku tengah berada di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara itu menyatakan, jika diberhentikan para polantas, hampir selalu ada saja ada kesalahan yang dituduhkan kepada para pengendara. Kenderaan-kenderaan angkutan barang serta kenderaan bernomor polisi di luar Sumatera Utara, kerap menjadi sasaran para polantas.

“Kalau pakai pelat (nomor polisi) dari Jawa, pasti disetop. Biasanya mobil-mobil pribadi. Kalau angkutan, rata-rata kena (diberhentikan) sama mereka. Kecuali ada kenderaan angkutan dengan logo-logo tertentu yang katanya punya pembesar-pembesar juga. Cukong-cukong lah pada dasarnya,” sebutnya.

“Kalau kami pada dasarnya enggak mau repot. Barang harus dikirim cepat, apalagi yang kami bawa misalnya makanan. Jadi bayar-bayaran itu biasa. Bukan pemandangan baru lah. Bos kita juga tahu kondisi itu, cuma enggak bisa buat apa-apa. Jadi ya (kutipan-kutipan) itu dimasukkan ke hitungan ongkos lah. Jadi yang menanggung sebenarnya yang menggunakan jasa kita,” tukasnya.

Sahbudin pun berharap Polisi dan Pemerintah menertibkan aksi polantas-polantas nakal itu, karena jelas-jelas merugikan masyarakat, pekerja transportasi dan pengusaha ekspedisi.

“Kalau terus-terusan begitu, lama-lama usaha ekpedisi jalur darat seperti kami ini bisa mati, dan tentunya itu berimbas pada kami selaku sopir. Apalagi kalau nanti kereta api trans-sumatera benar-benar terealisasi. Orang-orang akan lebih memilih pakai kereta api. Karena biayanya pasti lebih murah dan enggak banyak pungutan liar serta aksi pemerasan dan tindak kriminal,” pungkasnya. (okezone)