Tafsir Demo 4 November 2016, 4 + 11 + 20 + 16 = 51. Al Maidah 51 ‘Demo Damai, Semoga Aman’ Amien!

Satelitnews.com – Demo umat Islam menuntut agar Ahok diproses hukum karena dinilai telah menghina Alquran sebagai kitab suci umat Islam, merupakan demo terbesar dan terluas sejak reformasi tahun 1998. Semua kota besar bahkan hingga ada kota Kabupaten melakukannya.

Fenomena itu begitu nyata! Para pucuk eksekutif di negeri ini beringsutan. Mantan presiden ikut bicara. Para jenderal aktif dan non aktif tak tinggam diam. Para ulama yang biasanya berwajah teduh tiba-tiba terlihat murka.

Di pojok warung kopi, topik ini menjdi obrolan hangat. Hingga pak satpam yang jaga di komplek pun ikut serta membahas.

Semuanya jadi bergerak. Penyebabnya hanya satu orang; Basuki Tjahaja Purnama alias Koh Ahok.

Di Mabes Polri, para jenderal dan pimpinan tinggi menggelar berbagai persiapan. Apel dihadiri ribuan personil. Ada para jenderal disana, termasuk Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmayanto ikut ambil bagian.

Kadivhumas Polri Irjen Boy Rafli Amar sibuk bukan kepalang. Ia mengungkapkan, pihaknya sudah menerima laporan rencana aksi 4-11-2016 ini. Tercatat, menurut surat yang diterimanya, ada 100 ribu massa yang akan ikut. “Laporan pemberitahuan dilaksanakan oleh gerakan masyarakat yang mendukung fatwa MUI. Demo berlangsung hingga pukul 18.00 Wib,” katanya.

Jabatan di atas Boy ada Wakapolri Komjen Pol Syafruddin yang telah menegaskan, Polri resmi meningkatkan siaga satu bagi seluruh jajaran Polri se-Indonesia. Keputusan siaga satu ini mulai Rabu (2/10/2016) untuk seluruh Indonesia.

Di istana negara, Presiden Joko widodo sudah hilir mudik. Berkali-kali dia menggelar pertemuan, bersama rival politiknya, Prabowo Subianto hingga menemui para pimpinan Ormas Islam. Hasilnya, aksi ini tetap tidak dapat diredam.

Perjalanan menuju 4-11-2016 semakin dekat. Dan, itu baru yang muncul dipermukaan. Melalui grup sosial media tensi semakin tinggi.

Pesan berantai, berbagai analisa, prediksi, pendapatan, artikel, dan segala macamnya tumbuh subur menjelang aksi ini. Wow. Hingga perang di media sosial berlangsung sengit.

Mari kita amati lagi. Aksi damai ini adalah menuntut Ahok dipenjara karena ‘menistakan agama, menodai Alquran, melecehkan ulama, dan menghina umat Islam’.’

Tudingan itu terkait ucapan Ahok di sebuah acara, bahwa sebagian orang pasti tak akan memilihnya karena ditipu (oleh politisi) dengan (menggunakan) Al-Maidah ayat 51. Terlepas dari tulus atau tidaknya Ahok meminta maaf, massa meminta proses hukum tetap berjalan. Ya, proses hukum.

Perlu pembaca ketahui, saya menulis ini sambil berusaha meredam emosi. Emosi atas kerukunan bangsa ini yang sudah terbangun lama namun hancur hanya karena egoisme satu orang. Gara-gara seorang, masalah jadi melebar ke mana-mana. Kita sudah hidup rukun dan damai sejak lama.

Baru kemarin, kita memperingati hari santri. Baru kemarin kita diingatkan atas tetesan darah dan air mata para ulama dan santri yang berjuang untuk tegaknya NKRI-ini. Hari santri yang jatuh di bulan Muharam, maknanya kita dilarang untuk berperang. Dan tanggal 4 November, kita sudah masuk bulan baru. Muharam sudah berlalu.

Maka kita semua mari berdoa, agar demo yang dilakukan pada tanggal 4 November 2016 ini berjalan dengan aman, tertib dan menghasilkan kedamaian. Amien..”23x.

Akhir kata, mari kita menjadi saksi sejarah. Atas aksi yang dimulai dari penistaan Almaidah: 51 yang dilaksanakan pada tanggal 4 bulan 11 tahun 2016. Iya, angka yang unik. 4+11+20+16= 51.