LIPI: Peluang Ahok Untuk Menang Masih Sangat Besar, Pemilihnya Hanya Cenderung Diam Dan Tertutup Ketika Disurvei

Satelitnews.com – Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) Syarif Hidayat mengatakan, ada dua kemungkinan kenapa hasil survei elektabilitas Ahok beberapa pekan terakhir cenderung turun. Pertama kemungkinan karena status Ahok yang saat ini ditetapkan tersangka atas dugaan penistaan agama membuat dukungan semakin tergerus.

Kedua adalah orang yang disurvei enggan menjawab pertanyaaan karena faktor memanasnya suhu politik dan sosial di masyarakat. Kondisi itu membuat orang yang ditanya dalam survei tak mau mengambil risiko politik.

“Tapi saya lihat menurunnya elektabilitas Ahok di survei karena kebanyakan masyarakat tidak mau mengambil risiko politik dan sosial. Ingat, masyarakat Jakarta itu rasional dalam memilih calon. Artinya, saat disurvei bisa saja dia tidak katakan mendukung Ahok tapi dalam hati atau di bilik suara nanti malah kebalikannya,” ujar Syarif kepada SP di Jakarta, Kamis (24/11).

Syarif meyakini, dugaan kasus penistaan agama yang ditujukan ke Ahok akan semakin membuat masyarakat simpatik kepada calon petahana itu. Sebab, hingga saat ini penistaan agama itu masih kontroversi di kalangan masyarakat luas.

“Saya menyakini pemilih Jakarta itu malah simpatik sama dia (Ahok). Apalagi Ahok dikepung segala sudut. Kenapa dikepung dikasus isu SARA? Karena Ahok memiliki elektabiltas yang tinggi dan susah dikalahkan. Itu yang membuat orang dari luar Jakarta dikerahkan untuk menjegal Ahok,” ucapnya.

Oleh karena itu, kata Syarif, hasil survei yang menempatkan Ahok turun elektabilitasnya tak perlu dipermasalahkan. Hal terjadi karena masyarakat yang disurvei saat ini cenderung tidak terbuka dan jujur mengutarakan apa yang ada di benaknya.

“Untuk menghindari risiko politik dan sosial, bisa saja mereka tidak mengatakan mendukung Ahok tapi di bilik suara berbalik mendukung. Masyarakat Jakarta sangat rasional dalam memilih. Tidak mau menghadapi resiko politik dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menghindari risiko politik itu makanya cenderung nyatakan dukung si calon A, calon B atau bahkan tidak menjawab. Sekali lagi hanya untuk menjaga risiko politik dan sosial di masyarakat,” katanya.

Seharusnya, kata Syarif, perlu ada kanalisasi politik di Pilgub DKI Jakarta. Kanalisasi itu bertujuan agar orang luar Jakarta tidak perlu mencampuri urusan politik ibukota.

“Di daerah lain juga banyak penistaan agama tapi kok tidak diangkat ke permukaan. Kenapa? Karena memang tidak menarik. Apapun katanya, susah untuk tidak memisahkan isu agama dengan politik Jakarta saat ini,” katanya. (okedetik)

 

Tags: