SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Osteoporosis dikenal sebagai silent disease, karena sering kali berkembang tanpa gejala hingga terjadi patah tulang. Kondisi ini ditandai dengan penurunan kepadatan dan kualitas tulang, sehingga membuat tulang menjadi keropos, rapuh dan rentan patah, bahkan bisa mengalami cedera.
Menurut dr. Ray Hendry, Sp.OT, Dokter Spesialis Bedah Tulang di Bethsaida Hospital Gading Serpong, Osteoporosis umumnya menyerang wanita pasca menopause. Namun pria dan kelompok usia lain juga memiliki risiko, terutama mereka dengan gaya hidup yang tidak sehat.
“Osteoporosis terjadi ketika tubuh kesulitan menghasilkan tulang baru untuk menggantikan yang sudah tua. Biasanya, ini semakin terasa seiring bertambahnya usia. Namun faktor lain seperti pola makan yang kurang baik, gaya hidup kurang aktif, dan faktor keturunan juga bisa memperburuk kondisi ini,” ujarnya kepada satelitnews.com, Rabu (26/2/2025).
Lanjut dr. Ray Hendry ada beberapa penyebab utama Osteoporosis yang harus diwaspadai.
Pertama, kurangnya asupan kalsium dan vitamin D. Kedua nutrisi ini penting untuk menjaga kekuatan tulang.
Kedua, kurangnya aktivitas fisik. Gaya hidup yang minim gerak dapat mempercepat kehilangan massa tulang.
Ketiga, merokok dan konsumsi alkohol berlebihan. Kebiasaan ini berdampak negatif pada metabolisme tulang.
Keempat, faktor genetik. Riwayat keluarga dengan osteoporosis meningkatkan risiko individu.
Kelima, penggunaan obat-obatan tertentu. Obat seperti kortikosteroid jangka panjang dapat melemahkan tulang.
Selain mengetahui penyebabnya, selanjutnya perlu mengetahui cara mencegah Osteoporosis sejak dini. Menurut, dr. Ray Hendry, ada langkah-langkah dalam pencegahan osteoporosis.
Pertama, konsumsi makanan bergizi. Perbanyak konsumsi makanan kaya kalsium seperti susu, ikan, dan sayuran hijau.
Kedua, berolahraga secara teratur. Aktivitas seperti jalan kaki, yoga, atau latihan kekuatan sangat baik untuk tulang.
Ketiga, hindari kebiasaan buruk. Berhenti merokok dan batasi konsumsi alkohol.
Keempat, pemeriksaan Bone Mineral Densitometry (BMD). Mengukur kepadatan tulang, untuk mendeteksi dini risiko osteoporosis.
Deteksi Dini dengan Pemeriksaan Bone Mineral Densitometry (BMD)
Masih kata, dr. Ray Hendry, bahwa salah satu cara terbaik untuk mencegah patah tulang, akibat osteoporosis adalah melalui deteksi dini menggunakan pemeriksaan Bone Mineral Densitometry (BMD).
“Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan teknologi terkini, untuk mendiagnosa kesehatan tulang melalui alat BMD seri terbaru. Pemeriksaan ini menggunakan teknologi DXA (Dual-energy X-ray Absorptiometry) untuk mengukur kepadatan mineral tulang, dan mengidentifikasi risiko Osteoporosis, bahkan sebelum terjadi patah tulang hingga 10 tahun kedepan,” jelasnya.
Lantas apa saja manfaat pemeriksaan BMD berikut ulasannya.
Pertama, deteksi dini osteoporosis dan risiko fraktur atau patah tulang. Kedua, pemantauan pengobatan. Ketiga, pencegahan patah tulang. Keempat, skrining kekuatan tulang sebelum melakukan tindakan. Serta Kelima, pengecekan komposisi tubuh secara menyeluruh.
dr. Ray Hendry menjelaskan, pemeriksaan Bone Mineral Densitometry (BMD), disarankan bagi beberapa kelompok individu. Kelompok tersebut meliputi wanita berusia 65 tahun ke atas, pria berusia 70 tahun ke atas, serta wanita menopause yang memiliki faktor risiko osteoporosis.
Selain itu, kata dia, individu yang pernah mengalami patah tulang tanpa sebab yang jelas, dan mereka yang mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat melemahkan tulang, juga dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan BMD.
“BMD adalah alat penting dalam diagnosis Osteopenia (mulai melemahnya tulang) dan Osteoporosis. Dengan hasil yang akurat, kami dapat menentukan langkah pencegahan atau pengobatan yang sesuai untuk menjaga kesehatan tulang pasien,” jelasnya.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Pitono menegaskan, Bethsaida Hospital memiliki Layanan Bedah Tulang dan Diagnostik dengan fasilitas lengkap, mulai dari alat radiologi modern dengan teknologi terkini, hingga konsultasi dengan dokter spesialis maupun subspesialis.
“Kami menyediakan layanan komprehensif untuk kesehatan tulang, mulai dari pencegahan hingga pengobatan, didukung oleh teknologi terkini seperti Bone Mineral Densitometry. Teknologi ini mampu mengukur berbagai aspek, termasuk Total Body Composition, kepadatan tulang, kondisi tulang secara menyeluruh, hingga risiko fraktur dalam 10 tahun mendatang. Semua ini dilengkapi dengan dukungan dari tim medis yang berpengalaman,” pungkasnya. (rls/aditya)